Model Analisis Framing dari Murray Edelman, Entman, William A. Gamson & Andre Modigliani, dan Pan & Kosicki.

Model Analisis Framing
Analisis framing digunakan untuk menganalisa bagaimana media massa mengemas peristiwa, media massa “merekontruksi ulang” realita, peristiwa, suasana, keadaan, tentang orang, benda, bahkan pendapat-pendapat berkaitan dengan peristiwa tersebut. Redaksional media massa; wartawan, editor, redaktur, redaktur pelaksana, pimpinan redaksi yang mencari, meliput peristiwa, penulisan ulang-pengabungan-pengabungan sebagai proses editing, dan menyeleksi berita-berita mana yang layak dimuat dalam surat kabar. Kriteria berita berisi 5W + 1 H (apa, siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana), baik untuk laporan/berita langsung (hard news)maupun soft news atau feature.
Berita tidak saja berisi informasi tentang sesuatu hal, tetapi informasi tersebut harus menarik dan penting, atau memiliki nilai berita (news valeu).Misalnya: “ada pekerja yang mati mengenaskan” itu adalah “informasi”, tetapi bila pekerja tersebut mati karena ledakan pipa gas di aareal lumpur panas Lapindo, itu baru informasi yang menarik perhatian dan dianggap penting-layak untuk diketahui. Sesuatu yang menarik biasanya sesuatu yang tidak lazim, tidak biasa, aneh, berbeda, dframatis, tidak pernah-atau jarang terjadi, yang tidak diharapkan, tidak seperti yang seharusnya, yang diperkirakan menyebabkan hal yang lebih baik atau lebih buruk dsb. Sesuatu yang  pentingbiasanya apabila melibatkan orang banyak, kepentingan orang banyak, banyak orang yang merasakan, dsb.
Siregar (1999) dalam Bharata (2004:171) mengemukakan bahwa : Redaksional media akan berusaha subyektifitas tentang yang apa yang menarik dan penting menurutnya akan menarik dan penting menurut pembaca. Nilai berita ini apabila dijabarkan lebih lanjut adalah significane (penting), timliness (waktu; pen :news is new), magnitude (besar,pen:serius), proximity (kedekatan), prominence (ketenaran) dan human interest.
Apakah berita itu obyektif. Pendapat Everette E Denis dari kubu positifis mengemukakan bahwa obyektifitas berita dapat diukur dengan memisahkan antara fakta dan opini, menghindari pandangan emosiaonal dalam melihat peristiwa, memperhatikan prinsip keseimbangan dan keadilan, dan melihat pristiwa dari dua sisi (cover both side). Sedangkan John C Merril obyektifitas dalam jurnalistik merupakan hal yang tidak mungkin. Proses kerja jurnalistik mulai dari pencarian berita, peliputan, editing, kemudian  juga seleksi berita merupakan kerja yang subyektif, disarikan dari Bharata (2004:169).
Entman dalam Bharata (2004:181) mengemukakan : ide perihal framing pertama kali dilontarkan oleh Baterson pada tahun 1995. Frame pada awalnya dimaknai sebagai struktur konseptual yang mengorganisasi pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta menyediakan kategori-kategori standard untuk mengapresiasikan realitas. Framing pada dasarnya merupakan pemberian definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka berfikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan
Dimensi framing dimulai dengan pemilihan berita dan memberikan penekanan atau penonjolan aspek atau isu tertentu dalam berita. Hal tersebut dilakukan dengan penempatan berita di halaman utama, penulisan kata atau kalimat tertentu pada gambar pendukung, pemakaian grafis yang kontras sehingga memiliki peluang untuk diingat dalam peta mental pembaca. Selanjutnya framing berkaitan dengan pengunaan kata, kalimat dalam berita, simbol, konsepsi, ide, pengambaran dsb, sehingga frame berita dapat dilihat  dari makna dibalik kata, kalimat, simbol, ide dsb yang memberikan gambaran tertentu dan makna tertentu dari teks media tersebut.
Suatu realitas yang sama yang dikemas oleh wartawan yang berbeda akan menghasilkan berita yang berbeda, karena perbedaan sudut pandang dan penekanan dari  aspek-aspek yang berbeda. Dengan demikian ada realitas yang sebenarnyadan realitas-realitas  yang merupakan bentukan media  yang nota bene merupakan kontruksi-pemaknaan pemahaman wartawan beserta dewan redaksional atas realitas yang sebenarnya.

Model Analisis Framing
Setelah memahami prinsip dasar dari framing sekarang mari kita melihat model-model framing yang umum digunakan. Model analisis framing antara lain dari Murray Edelman, Entman, William A. Gamson & Andre Modigliani, serta Pan & Kosicki.
1.    Murray Edelman, apa yang diketahui tentang realitas atau tentang dunia tergantung bagaimana membingkai dan mengkonstruksi realitas, realitas yang sama bisa jadi akan menghasilkan realitas yang berbeda ketika realitas tersebut dibingkai atau dikonstruksi dengan cara yang berbeda. Murray Edelman mensejajarkan framing sebagai “kategorisasi” yaitu pemakaian perspektif tertentu dengan pemakaian kata-kata yang tertentu pula yang menandakan bagaimana fakta atau realitas dipahami (Eriyanto, 2007).
Kategori merupakan abstraksi dan fungsi dari pikiran sehingga manusia dapat memahami realitas yang dapat mempengaruhi pikiran dan kesadaran publik, sama seperti propaganda.
Salah satu gagasan utama Murray Edelman adalah dapat mengarahkan pandangan khalayak akan suatu isu dan membentuk pengertian mereka akan suatu isu. Dalam praktik pemberitaan media misalnya, kategorisasi atas suatu peristiwa umumnya ditindaklanjuti dengan mengarahkan pada kategori yang dimaksud. Kategorisasi ini memiliki aspek penting yaitu rubrikasi. Klasifikasi yang dilakukan akan mempengaruhi emosi khalayak ketika memandang atau melihat suatu peristiwa.
2.  Robert N. Entman, melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu sebagai berikut :
a.  Seleksi isu, Aspek ini berhubungan dengan pemilihan fakta. Dari realitas yang kompleks dan beragam itu akan dipilih satu aspek yang diseleksi untuk ditampilkan. Dari proses ini selalu terkandung didalamnya ada bagian berita yang dimasukkan, tetapi ada juga yang dikeluarkan. Tidak semua aspek atau bagian berita ditampilkan.
b.  Penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas/isu, Aspek ini berhubungan dengan penulisan fakta. Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa/isu tersebut telah dipilih, kemudian memikirkan bagaimana aspek itu diceritakan. Hal tersebut sangat berkaitan dengan pemilihat kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk dapat ditampilkan pada khalayak.
Entman mengatakan framing dilakukan dalam empat tahap, yaitu: pertama, pendefinisian masalah/define problem tentang bagaimana melihat suatu isu/peristiwa dan sebagai masalah apa isu/perisiwa itu dilihat, kedua, memperkirakan masalah atau sumber masalah/diagnose cause tentang peristiwa itu dilihat sebagai apa serta siapa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah. Ketiga membuat keputusan moral/make moral judgement tentang nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah dan nilai moral apa yang dipakai untuk menyatakan suatu tindakan, keempat, menekankan penyelesaian/treatment recommendation tentang penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah/isu dan jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah.
3.    William A. Gamson & Andre Modigliani, menyebutkan dalam framing, cara pandang terbentuk dalam kemasan (package) yang mengandung konstruksi makna atas peristiwa yang akan diberitakan (Sobur, 2006). Kemasan itu semacam skema dan struktur pemahaman yang digunakan individu untuk mengkonstruksi makna pesan-pesan yang ia sampaikan, serta untuk menafsirkan makna pesan yang ia terima, cara pandang atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedimikian rupa, dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana (Eriyanto, 2007).
4.    Pan & Kosicki, dalam tulisan mereka Framing Analysis: An Approach to News Discourse, Pan & Kosicki mengoperasionalisasikan empat dimensi struktural teks berita sebagai perangkat framing, yaitu: sintaksis, skrip, tematik dan retoris. Keempat dimensi struktural tersebut membentuk semacam tema yang mempertautkan elemen-elemen semantik narasi berita dalam suatu koherensi global. Model ini berasumsi bahwa setiap berita mempunyai  frame yang berfungsi sebagai pusat organisasi ide. Frame merupakan suatu ide yang dihubungkan dengan elemen yang berbeda dalam teks beritankutipan sumber, latar informasi, pemakaian kata atau kalimat tertentu kedalam teks secara keseluruhan. Frame berhubungan dengan makna. Bagaimana seseorang memaknai suatu peristiwa, dapat dilihat dari perangkat tanda yang dimunculkan dalam teks.
1. Struktur sintaksis bisa diamati dari bagan berita. Sintaksis berhubungan dengan bagaimana wartawan menyusun peristiwa-pernyataan, opini, kutipan, pengamatan atas peristiwa-ke dalam bentuk susunan kisah berita. Dengan demikian struktur sintaksis dapat diamati dari bagan berita (headline yang dipilih, lead yang dipakai, latar informasi yang dijadikan sandaran, sumber yang dikutip dan sebagainya).
2.    Struktur skrip melihat bagaimana strategi bercerita. Struktur ini melihat gaya bertutur yang dipakai wartawan dalam mengemas peristiwa.
3. Struktur tematik berhubungan dengan cara wartawan mengungkapkan pandangannyaatas peristiwa kedalam proposisi, kalimat, atau hubungan antarkalimat yang membentuk teks secara keseluruhan. Struktur ini akan melihat bagaimana pemahaman itu diwujudkan ke dalam bentuk yang lebih kecil.

4.    Sruktur retoris berhubungan dengan cara wartawan menekankan arti tertentu. Dengan kata lain, struktur retoris melihat pemakaian pilihan kata, idiom, grafik, gambar yang digunakan untuk memberi penekanan pada arti tertentu.

4 komentar:

  1. saya izin baca ya mbak.

    Terima kasih
    Kusumajaya

    BalasHapus
  2. Makasih kaka, sangat membantu, lupa saya mau bilang terimakasih

    BalasHapus